asroma

Free Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generator

wellcome

Free Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generatorFree Glitter text generator

asroma

Minggu, 09 Maret 2014

FRANCESCO TOTTI

                                              FRANCESCO TOTTI



                    
  ILCAPITANO ROMA 


   Tahun 1976. Roma, eternal city alias kota abadi, siap menyambut kelahiran sebuah bakat, keteguhan, dan kemanusiaan: Francesco Totti. Seorang anak yang akan menjadi putra favorit kota Roma, menjadi simbol sekaligus pahlawan.

“Sepakbola amat berarti bagiku. Bagiku sepakbola adalah kegembiraan, sepakbola adalah kehidupan”.

Kehidupan Francesco memang telah tergariskan. Sejak kanak-kanak, telah terarahkan kepada olahraga yang paling dikagumi dan dicintai di dunia, tidak lain tidak bukan: sepakbola.

Mitos sang gladiator bermula saat Enzo dan Fiorella (ayah-ibunya) mengajak putra keduanya yang baru berusia 10 bulan berlibur di pantai Adriatik. Tiba-tiba si bayi mencengkeram kuat-kuat bola saat ingin diambil kakaknya, Riccardo.

Sepakbola adalah teman pertama dan terbaiknya. Terdapat dua hal yang ada dalam mimpinya saat kecil: Real Madrid, sebuah simbol ketenaran dan hiburan dalam dunia sepakbola (fakta yang cukup mencengangkan, baru tau juga); Giuseppe Giannini, sang playmaker, kapten, dan pemain kunci AS Roma, yang juga dikenal sebagai “il principe” (sang pangeran) karena perilaku dan permainannya yang elegan.

Selama masa remajanya, Francesco mendedikasikan dirinya sepenuhnya, seluruh waktu dan harapannya, pada bola sepak. Jam demi jam bersama, Francesco dan bola sepak, pasangan yang tak terpisahkan, ditakdirkan untuk tidak saling mengkhianati (jadi teringat Captain Tsubasa nih, ternyata dalam dunia nyata memang terjadi). Ketekunan adalah kekuatannya: dengan waktu dan kesabaran, bunga telah siap mekar. Latihan menendang bola ke dinding tanpa henti, sesi mendribel bola tanpa batas, dan latihan mengoper dan menendang voli terus menerus: itulah yang membuat Francesco memiliki sensitivitas yang menakjubkan saat mengontrol bola, bisa dibilang, bola telah menjadi bagian tubuhnya sendiri.

Pergeseran dari bermain bola dengan teman-temannya, di taman dan di jalan, ke lapangan terasa nyaman dan natural, sebuah kemahiran seorang calon jagoan. Fortitudo, Smith Trastevere, dan Lodigiani: Francesco memberikan bakatnya yang brilian pada tiap tim yang diperkuatnya ini, setelahnya segera menjadi calon bintang dimata pelatih-pelatihnya.

“Aku sangat beruntung. Orang tuaku tidak pernah menekanku, mereka selalu mendukung dan membantuku”.

Ketenangan dari ayahnya yang kalem dan sabar, Enzo, menghilangkan ketegangan dari benak Fancesco, membuatnya semakin penuh berkomitmen dalam perjalanan karirnya. Intensitas dan energi dari ibunya, Fiorella, adalah penolong dalam karirnya yang tengah menanjak: ialah seorang yang memelihara keyakinan Francesco dan mendukungnya dengan banyak pengorbanan.

“Aku takkan pernah bisa membayar jasa-jasanya, Ibuku”.

Ayah dan ibunya, sumber kedamaian dan semangat: penempa yang paling penting baginya adalah keluarga.

Sosok yang akan menjadi legenda

Di usia lima tahun, bocah Totti meraih trofi pertamanya. Baru sembilan tahun hidup, nama Totti sudah menjadi buah bibir di Roma. Untuk itu, ibunya selalu menguntit Totti ke mana pun termasuk di Trigoria, markas latihan AS Roma. Si ibu cemas bila musim dingin tiba. Ia tak sungkan menelepon pelatih Totti untuk memastikan anaknya tidak kedinginan.

Ibunya setengah mati memproteksi Totti. AC Milan pernah didampratnya setelah menawari kontrak, sekolah gratis, dan rumah mewah. "Tak semeter pun Francesco keluar dari Roma! Camkanlah!" tutur Fiorella. Totti adalah anak mama, seperti seluruh anak lelaki Italia yang sampai kapan pun selalu dianggap bambino, anak mama.

"Aku bisa terus hidup selama mungkin tanpa makanan, tanpa air, tanpa udara" kata ibunya, "tetapi aku tak mampu bertahan barang semenit pun tanpa bambinoku" Tiada pria yang dikasihi sama besar oleh neneknya, ibunya, dan istrinya seperti Totti.

Kita jarang dapat memilih keputusan yang benar dari sebuah kesempatan dalam hidup. Takdir mendatangi Francesco dalam sebuah persimpangan: ia diinginkan oleh AS Roma dan SS Lazio. Pertentangan kedua klub abadi, dalam memperebutkan kejayaan sepakbola di kota Roma.

Apa yang terjadi tidak sesimpel kelihatannya, sebuah kombinasi hati, kekuatan, kejeniusan, keberuntungan, jiwa, dan warna...dua warna: merah pompei (merah campur oranye), merah yang berarti hasrat dan gairah, dan kuning keemasan, emas yang berarti keagungan dan kemuliaan. Francesco memilih bergabung dengan tim muda Roma. Malam itu, bulan pun seolah tersenyum di atas Colosseum. Saat itu, adalah awal dari sang legenda.

“Aku mendengar Roma memiliki seorang anak yang mengagumkan” ujar Giovanni Trappatoni, menyinggung Francesco Totti yang berusia 15 tahun.

Empat tahun berlalu dengan cepat, telah tiba saatnya untuk membuka halaman baru. Saat itu 18 Maret 1993, jelang akhir pertandingan Brescia-Roma. Roma tengah unggul 2-0 dan pelatih Vujadin Boskov memberikan debut Francesco di Serie A pada usia enam belas tahun, bermain di sisi idolanya, sang pangeran Giuseppe Giannini. Batas antara kenyataan dan mimpi masa kecil menyatu: bukti bahwa kita tidak boleh berhenti berharap akan mimpi-mimpi kita.

Tahun berikutnya, Roma dilatih oleh pelatih berpengalaman dan bersahaja, Carlo Mazzone. Semua pelatih besar, terutama yang memiliki pengalaman bermain di lapangan, yang menghargai kerja keras dan pengalaman, akan memahami potensi setiap pemain dan bahkan dapat memperkirakan masa depan pemain tersebut dari sekilas pandang. Mazzone, seorang asli Roma (Trastevere), melihat seorang juara di diri Francesco dan segera membawanya dalam asuhan dan pengamatannya. Mazzone bersabar dalam menggunakan Francesco, tidak memforsirnya dalam pertandingan, menghindarkannya dari tekanan yang berlebihan, menjaganya dari kehilangan kerendah hatian, melindunginya dari perhatian media, serta menyempurnakannya sebagai seorang gelandang serang, seorang fantasista yang brilian dan tidak bisa ditebak.

“Orang-orang, termasuk kritikus dan fans, hanya mengenalnya sebagai seorang pemain. Padahal karakter terbaiknya terlihat di luar lapangan, bukan di lapangan. Ia adalah seorang yang luar biasa: ia sederhana dan rendah hati, penolong dan menyenangkan, serta taat dan penurut” ucap Carlo Mazzone tentang Francesco Totti.

Terkait dengan kasus yang terjadi belakangan, mengenai tuduhan Mario Balotelli bahwa Francesco telah mengucapkan hinaan bernada rasis, Claudio Ranieri pun berkata “Siapapun yang menuduhnya sebagai seorang rasis benar-benar tidak mengenalnya. Setiap orang tua pasti menginginkannya sebagai seorang anak”.

Belanjut kembali ke cerita. Pada September 1994, di Stadion Olimpico yang dikenal sebagai kandang serigala, Francesco Totti di usia 18 mencetak gol pertama dan takkan terlupakannya di Serie A, dalam pertandingan Roma vs Foggia: melalui tembakan rebound akurat kaki kiri, sangat cepat dan mematikan seperti sayatan pedang. Roma segera dapat mengandalkan kualitas seorang penyerang kelas satu, sebagai alternatif striker Argentina Abel Balbo dan penyerang lincah Uruguay Daniel Fonseca. Di tengah kompetisi ini, Totti terus menambah penampilan dan golnya: pada masa kepelatihan Mazzone ia menjadi pemain inti yang tak tergantikan.


Menyingsing millenium

Francesco telah memasuki tim nasional junior Italia sejak dini, sebagai aktor utama. Italia dibawanya menjadi runner up Piala Eropa U-18 1995, juara Piala Eropa U-21 1996, dan juara dalam Turnamen Mediterania 1997 dengan tim U-23. Sang fantasista selalu mencetak gol dalam ketiga parta final, membuktikannya sebagai pemain yang amat menentukan.

Debutnya di tim nasional senior terjadi pada Oktober 1998. Piala Dunia Prancis 1998 yang menjemukan baru berakhir, dan Francesco menjalani penampilan pertamanya bersama Italia saat melawan Swiss dalam kualifikasi Piala Eropa. Setelah gol perdananya saat melawan Portugal, ia telah menjadi pemain yang rutin dipanggil oleh pelatih Dino Zoff.

Piala Eropa 2000 tiba dan Francesco menjawab tantangan selayaknya seorang juara. Italia melaju dalam kompetisi ini dan menenggelamkan satu persatu lawannya. Francesco menghibur khalayak dengan gerakan-gerakannya serta golnya yang menentukan: sebuah sundulan saat menghadapi Belgia dan tembakan mematikan saat melawan Rumania di perempat final.

Tantangan terbesar dihadapi Italia saat ditantang Belanda di semifinal. Seorang pemain Italian telah dikartu merah sejak awal, dan pertandingan mutlak dikuasai oleh tuan rumah. Italia bertahan dengan heroik hingga babak adu penalti, babak yang selalu membawa kesialan bagi Italian selama dasawarsa terakhir.

“Aku akan mencoba tendangan cungkil”, bisik Francesco pada rekan setimnya saat gilirannya tiba. Van der Sar yang menjulang tinggi berada diantara mistar gawang Belanda, dan suporter Belanda berada tepat di belakang gawang, membuat tensi meninggi: membayangkan tendangan chip saat penalti seperti sebuah kemustahilan. Atau sebuah kejeniusan? Francesco adalah seorang yang selalu memegang janjinya dan selalu berusaha memenuhinya: sebuah sepakan chip yang lembut, sang kiper telah tertipu dan bola dengan mulus masuk ke jala. Sebuah gol yang patut dikenang.

Setelah mengalahkan tim oranye dan kutukan penalti, Italia menghadapi Prancis. Francesco menghidupkan partai final, membuktikan tiada pemain lain di lapangan yang sanggup menandinginya: ia mengelabui bek Prancis dengan back heel dan memulai aksi yang membuat Italia unggul di awal. Setelah itu, bermunculanlah umpan dan assist darinya yang sayangnya banyak disia-siakan rekan setimnya di lini depan. Sayangnya, kemudian Prancis berhasil membalik situasi dan mencetak golden goal.

Sang kartu as Roma terpilih menjadi pemain terbaik dalam turnamen. Tendangan cungkil dari titik penalti dan skillnya yang luar biasa mempesona Eropa dan dunia: pengakuan internasionalnya yang pertama.

Untuk kejayaan Roma

“Roma non si discute. Roma si ama”, “Roma tidak untuk dipertanyakan. Roma itu untuk dicintai”. Begitulah salah satu lagu para romanista.

Musim panas tahun 2000, telah tiba saatnya. Gairah, kegembiraan, keterkejutan, kenangan dalam jiwa setiap romanista. Kemenangan. Franco Sensi telah mengubah hasrat dan keinginan menjadi hasil karya yang luar biasa: dalam beberapa minggu di musim panas saat itu berdatanganlah sekumpulan gladiator baru di Roma, bergabung dengan sang kapten menciptakan pasukan tak terkalahkan.

Pelatih “Don” Fabio Capello, terpilih pada tahun 1999, seorang pelatih yang mampu menginspirasi mental pemenang para pemain, sekarang dapat berharap pada timnya yang luar biasa: bek sayap luar biasa, Candela dan Cafu, “the wall” Samuel, “puma” Emerson, “shogun of the east” Nakata, pemain lincah “top gun” Montella, “lion king” Batistuta, dan beberapa pemain lain. Francesco tidak lagi menjadi bintang tunggal di Roma.

Musim itu berjalan dengan fantastis. Francesco berperan dimana-mana: memberikan umpan kepada rekan-rekannya, membangun semangat, dan mencetak gol, seperti sebuah gol luar biasa saat melawan Udinese, tendangan voli kaki kiri yang teramat keras...seperti meteor, menghasilkan standing ovation dari suporter kedua kubu.

Hanya Juventus yang menjadi satu-satunya rival musim itu. Bianconeri berusaha hingga musim berakhir, namun giallorossi tidak menyerah sampai titik darah penghabisan.

Kemenangan terbaik, yang paling mengesankan, tentu saja yang diraih pada pekan terakhir. Pada 17 Juni 2001, kemenangan dalam pertandingan terakhir melawan Parma di Stadion Olimpico berbuah gelar juara.

Tendangan yang menaklukkan dunia

“Totti adalah seorang juara yang luar biasa, yang saya hormati karena kesetiaannya pada klubnya. Bagi beberapa orang, di Roma, ia bahkan lebih penting dibandingkan sang Paus” ujar Thierry Henry.

Pada tahun 2005, Roma mulai mempertontonkan permainan yang mengagumkan dan menggoda tiap penonton sepakbola, lincah dan tajam. Revolusi ini dibawa oleh Luciano Spalletti, yang ditunjuk Roma setelah pengalaman positifnya di Udinese.

Cukup mengheranan, sang pelatih menaruh Francesco sebagai seorang striker, didukung oleh tiga gelandang dinamis yang mengerti bagaimana menembak dan menembus pertahanan lawan. Hasilnya cukup mencengangkan: sang kapten menjadi ujung tombak andalan, setiap saat dapat memilih untuk menembak langsung ke gawang dengan akurasi yang impresif atau dengan cepat mengumpan kepada rekannya dengan sedikit sentuhan. Di lapangan, Francesco bermain dengan kecepatan tinggi, membuat Roma bermain laksana kilat.

Bagi Roma, saat itu adalah awal era supremasi/keunggulan dan hiburan. Sejak bulan Desember, Roma mencatat sebelas kemenangan beruntun: sesuatu yang belum pernah dicapai klub lain di Italia sebelumnya. Pemain muda yang matang, Daniele De Rossi sekarang berada di sisi Francesco: sebagai seorang teman, gelandang, dan pria asli Roma. Dengan mencontoh Francesco, Daniele pun menjadi pilar penting tim.

Musim berikutnya menjadi persaingan antara Inter dan Roma. Giallorossi mampu bertahan dalam menghadapi kekuatan ekonomi Nerazzuri, dan memainkan sepakbola terindah di Eropa, merebut dua kali Coppa Italia dan sebuah Supercoppa: tiada yang lebih memuaskan daripada mengalahkan klub yang kuat dan besar.

Pada Oktober 2005, Francesco mencetak gol terbaik dalam karirnya kala pertandingan melawan Inter. Membawa bola dari daerah lapangan sendiri, mendribel bola melewati lawan demi lawan. Gawang masih jauh, namun setelah memandang sekilas kiper lawan (Julio Cesar) maju beberapa langkah dari garis gawang, Francesco secara luar biasa melakukan tendangan chip jarak jauh, sempurna dan mematikan. Suporter Inter di San Siro turut memberi aplaus, kagum akan sebuah pertunjukan sepakbola yang indah.

“Totti adalah yang terbaik dari mereka” kata Massimo Moratti.


Tiada pemain lain yang mampu menyaingi kontinuitasnya, seorang atlit yang mampu bermain di level atas bertahun-tahun. Si nomor sepuluh dari Roma telah memperoleh banyak gelar pribadi, diantaranya:
  • Pemain muda terbaik Serie A 1999
  • Pemain terbaik Serie A 2000 & 2003
  • Pemain terbaik Italia 2000, 2001, 2003, 2004, & 2007
  • FIFA 100 great players
  • Top skor Serie A 2007
  • Sepatu emas Eropa 2007
  • Bola perak (penghargaan fair play) 2007-08
  • Pencetak gol terbanyak Roma sepanjang sejarah
  • Penampilan terbanyak Roma sepanjang sejarah
  • Pencetak gol terbanyak Serie A yang masih aktif

Francesco selalu menjadi pemain yang menentukan. Kita tidak bisa lupa akan tiga kali gol dari tendangan bebeas saat melawan Milan di Coppa Italia, tendangan kilat saat menjebol gawang Sampdoria. Tendangan geledek, chip, sundulan, penalti yang membuat kiper lawan mati langkah: sebuah daftar yang tidak berakhir.

Pada tahun 2007, sang kapten menjadi top skor Serie A, bahkan merengkuh sepatu emas, penghargaan bagi pencetak gol terbanyak Eropa. Walaupun terlahir sebagai gelandang serang, Francesco berhasil mengalahkan striker-striker yang ditakuti di Eropa, seperti Ruud van Nistelrooy. Semua di belakangnya, tanpa kecuali.

“Francesco Totti adalah pemain terbaik di dunia” ucap Pele.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

forza roma . . .

Song of Roma

Roma Roma Roma

oleh: Antonello Venditti

Roma Roma Roma

core de sta città

unico grande amore


de tanta e tanta gente

che fai sospirà


Roma Roma Roma

lasciace cantà,

da sta voce nasce un coro

so centomila voci

c'hai fatto innamorà

Roma Roma bella

t'ho dipinta io,

gialla come er sole

rossa come er core mio Roma


Roma Roma Roma

nun te fa incantà

tu sei nata grande

e grande hai da restà


Roma Roma Roma

core de sta città

unico grande amore

de tanta e tanta gente

c'hai fatto innammorà

AKU HANYA MANU$IA BIASA....

………………..?
…………………*………………...
?...…………**…………..?
..**……….*….*……..**
….*..*…..*…..*….*..*
……*…..*……….*.....*
……************……….
……..*..lovel…*
…..*..lovelovelo…*
…*..lovelovelove….*
..*.lovelovelovelove…*…………….*….*
.*..lovelovelovelovelo…*………*..lovel….*
*..lovelovelovelovelove…*….*…lovelovelo.*
*.. lovelovelovelovelove…*….*…lovelovelo.*
.*..lovelovelovelovelove…*..*…lovelovelo…*
..*…lovelovelovelovelove..*…lovelovelo…*
…*….lovelovelolovelovelovelovelovelo…*
…..*….lovelovelovelovelovelovelov…*
……..*….lovelovelovelovelovelo…*
………..*….lovelovelovelove…*
……………*…lovelovelo….*
………………*..lovelo…*
…………………*…..*
………………….*..*


ApabiLa kamu ingin berteman, JanganLah kareNa kelebihannya,…
karena munkin dengan satu kelemahan kau mungkin akan menjauhinya..

Andai kau ingin Berteman janganLah kareNa kebaikannya...
kareNa mungkin Satu keburukan, kau akan membencinya..

Andai kau ingin sahabat yang satu janganLah KareNa iLmunya..
KareNa apabiLa di BuNtu kau akan memfitNahnya,....

Andai kau ingin seorang teman janganLah kareNa sifat CERIAnya..
kareNa andai dia tidak pandai menceriakan kau mungkin akan menyalahkannya....

Andai kau ingin bersahabat, TeriMa dia seadanya,..
kareNa dia seorang sahabat yang hanya MaNu$iA BIA$A....


"JANGAN DI HARAPKAN SEMPURNA, KARENA KAU JUGA TIDAK SEMPURNA,TIADA YANG SEMPURNA..."


"forza roma"

photo asroma